IGONTV.com – Dari Indonesia Untuk Dunia
Keyboard komputer yang kita gunakan sehari-hari dengan susunan QWERTY ternyata bukan hasil acak, melainkan buah dari sejarah panjang mesin ketik. Susunan itu dipatenkan Christopher Latham Sholes pada akhir abad ke-19 ketika ia bekerja sama dengan Remington untuk memproduksi mesin ketik komersial pertama.
Menurut catatan arsip paten tahun 1878, Sholes menyusun tombol QWERTY agar mesin ketik tidak mudah macet. Pada masa itu, tuas huruf atau typebar sering saling bertabrakan jika huruf-huruf yang sering muncul berurutan ditempatkan berdekatan. Dengan memisahkan kombinasi huruf tertentu, risiko kerusakan bisa ditekan.
Sejumlah sejarawan teknologi juga mencatat pengaruh operator telegraf dalam perkembangan tata letak. Operator lebih mudah mentranskripsi kode Morse dengan susunan tertentu, sehingga QWERTY menjadi lebih praktis digunakan. Dikutip dari Smithsonian Institution, faktor kebiasaan para pengguna awal juga memperkuat posisi QWERTY di pasar.
Upaya menciptakan alternatif sebenarnya pernah ada. Pada 1936, August Dvorak mematenkan tata letak baru yang diklaim lebih efisien dan ramah jari. Studi yang dilaporkan The Guardian dan beberapa riset akademik menunjukkan bahwa tata letak Dvorak atau Colemak bisa mengurangi beban otot tangan. Namun, dominasi QWERTY tidak tergeser karena faktor jaringan dan kebiasaan.

Efek yang disebut network effect membuat QWERTY tetap menjadi standar global. Sekolah mengetik, mesin produksi massal, perangkat lunak, hingga kebiasaan jutaan pengguna membentuk ekosistem yang sulit digantikan. Sejarawan ekonomi Paul David bahkan menyebut QWERTY sebagai contoh klasik bagaimana teknologi “terkunci” oleh sejarah.
Di era digital, keyboard virtual pada ponsel memberi ruang eksperimen dengan berbagai tata letak, termasuk prediksi kata dan pengaturan khusus bahasa. Meski begitu, untuk keyboard fisik, QWERTY tetap bertahan sebagai standar dunia karena alasan kompatibilitas dan efisiensi transisi.














